Cek Fisik Motor (part III) (final)

Wah maaf baru bisa post part terakhirnya, terima kasih buat saudara-saudara sebangsa setanah air yang sudah tidak sabar menunggu 😀 *emang ada ya?? geer banget..*

Buat yang belum tahu sejarahnya, silahkan dicek episode sebelumnya

Kelamaan gak post ingatan saya jadi samar-samar, lupa-lupa ingat, haha. Sebelumnya kan saya sudah janjian dengan Pak Narno (si tukang cek fisik) untuk mengambil hasil cek fisiknya di Polsek besok malam.

Ceritanya ini sudah besoknya…

Jam sudah menunjukkan waktu 16.30, waktunya pulang kantor. Tapi saya tidak pulang dulu karena mau ke Polsek trus sekalian pulang. Dalam hati sudah senang bukan main, karena sudah dibantu untuk melakukan pengecekan fisik kendaraan bermotor. Baik banget ya bapak-bapak ini, mau membantu saya, orang kemarin sore yang belum dikenal. Ternyata ada secercah harapan di kejamnya kehidupan ibu kota *lebay mode: on*.

Sehabis sholat maghrib saya menghubungi si pak Narno, “selamat malam pak Narno, ini Haris yang kemarin cek fisik. GImana pak? sudah bisa saya ambil hasilnya?”, begitu bunyi SMS saya. Rrrrrr… rrrr…. *HP saya getar, FYI saya jarang pake ringtone, berisik menurut saya :p* Wah ini pasti balesan dari pak Narno, dan ternyata benar. “Sudah jadi dik, ambilnya di rumah saya saja ya, di asrama polisi belakang polsek. Nanti tanya saja di sekitar situ, semua orang sudah kenal saya”, jawab SMS pak Narno. Hmmm… ngambilnya ke rumahnya ya, wah jadi dagdigdug bertandang ke kediaman polisi.

Tanpa casciscus langsung pulang kantor dan menuju ke TKP. Di perjalanan sih kepikiran mau beli jajan apa gitu buat ucapan terima kasih, tapi karena kelamaan mikir mau beli apa jadinya urung deh, haha. 15 menit sudah sampai di depan Polsek, saya nanya orang di pinggir jalan tentang lokasi, “Lha itu mas tempatnya”, kata orang yang saya tanya. Ternyata lokasinya persis depan saya. Saya pun masuk gang di sebelah polsek, ternyata di atasnya ada tulisan Asrama Polisi, wah tadi kok gak keliatan, malu nanya ternyata udah di depan mata posisinya.

Di dalam ada kompleks rumah-rumah, bingung nih yang mana rumahnya. Setelah memarkir motor di pinggir jalan, saya tanya lagi ke orang yang kebetulan ada di sebuah Pos. “Itu tuh rumahnya, mas masuk gang itu saja, itu ada anaknya lagi main di depan rumah”, orang itu sambil menunjuk ke sebuah gang. Setelah terima kasih, saya berjalan masuk ke gang sempit dan agak gelap. Ternyata pikiran-pikiran saya berbeda jauh dengan kenyataan. Rumah-rumah disitu sangat sederhana, ya mungkin karena asrama, dan agak tidak layak untuk ditinggali. Sampai di dekat anak kecil yang ditunjuk orang tadi saya bertanya, “bapaknya ada dik?”. Si anak langsung masuk ke sebuah rumah. Saya menengok ke dalam rumah, mungkin lebih tepatnya kamar asrama kali ya, soalnya terlihat cuma 1 ruangan yang disekat jadi multi fungsi. Ada sebuah meja di sudut ruangan yang sempit, diatasnya berserakan barang-barang yang tak rapi. Kipas  yang sering terlihat di tukang-tukang cukur berputar-putar di atas ruangan, menimbulkan bunyi yang tidak nyaman di telinga, dan tidak mengusir hawa panas dan pengab di ruangan itu. Pencahayaan di ruangan itu cuma didukung oleh sebuah lampu bohlam kuning yang kurang terang. Di depan meja pak Narno sedang duduk di sebuah kursi sambil bertelanjang dada, “Halo dik..”, sambutnya.

Terdiam sesaat saya pun masuk dan menyapanya, “Selamat malam pak”, sambil menjabat tangannya. Saya pun disuruh duduk di sebuah kursi kecil yang ada di situ. Basa-basi dikit, kami bercakap-cakap singkat. Langsung saja setelah bosan basa-basi saya menanyakan status Hasil Cek fisik motor, apakah sudah jadi. Pak Narno mengambil secarik kertas dari atas meja, itulah jawaban pertanyaan saya tadi. Disodorkan ke saya, kemudian saya lihat, apakah itu benar.  Tercantum disitu data-data motor saya beserta tanda tangan dari para petugas di Polda, saya lupa siapa saja. Suasana hening agak lama, saya lalu nyeletuk basa-basi, “Ini ada biayanya gak pak”. Dalam pikiran saya si bapak akan mengatakan gratis, karena niat dia ikhlas membantu saya. Tapi… “Oh iya dik, biaya cek fisiknya 20 ribu, ongkos kertasnya 70rb. Soalnya itu bukan kertas sembarangan dik”, katanya. Lahh, pikiran saya tadi buyar, terngiang di otak saya ucapan yang sering diutarakan, “Ini Jakarta bung, mana ada yang gratis”. Mana yang dibilang kertas mahal ya biasa aja sih, gak keliatan mahalnya disebelah mana. Tadinya kalo si bapak bilang gratis mau saya kasih 50 ribu, hitung-hitung ongkos terima kasih, ternyata… Mana kemarin yang repot bongkar motor gesek-gesek nomor mesin saya sendiri, saya yang capek si bapak tinggal nyuruh. Hadehhhhh..

Senyum yang saya tunjukkan sejak bertemu pun hilang dari wajah saya, mungkin saat itu saya pake mode pokerface, tanpa ekspresi kayak master poker yang lagi bertaruh jutaan dolar. Dalam hati sudah gak enak saya langsung menyodorkan uang 100 ribu dari dompet, “kembaliannya ambil saja pak, hitung-hitung terima kasih”, saya berkata. Si bapak mungkin senang-senang saja, lumayan dapat tambahan. Saya baru sadar telah terkena jebakan betmen *istilah kerennya*. Terkena praktek pungli untuk proses yang seharusnya gratis 100% (ya saya baru tahu beberapa hari kemudian bahwa di Polda seluruh proses pengecekan fisik kendaraan bermotor itu bebas biaya). Saat dimana saya mengiyakan tawaran bantuan dari si pak Joko (orang yang pertama kali bertemu di polsek), saat itulah saya telah terkena perangkap pungli. Tanpa banyak omong saya langsung pamit, sudah gerah saya dan dongkol telah terkena pungli. Saya tidak mau memperpanjang masalah dengan protes, bisa-bisa nanti malah ada kejadian aneh-aneh malah bisa berabe. Si bapak sok menawarkan minum sebelum saya pulang, tapi saya tolak. Setelah bersalaman saya langsung pulang menggeber motor ke arah Ragunan sambil membayangkan si pak Narno bersenang gembira mendapat “rejeki” dari saya.

3 hari ini jadi pelajaran berharga, terkadang apa yang kita bayangkan tidak sesuai kenyataan. Sudah berbaik sangka eh ternyata.. Untuk yang akan melakukan pengurusan Pengecekan fisik kendaraan bermotor sebaiknya lakukan sendiri di Polda, prosesnya cepat dan gratis, ada ketentuan yang ditempel di Polda. Jadi kalau ada yang menarik biaya pasti itu pungli dan kalo bisa jangan diberi. Terimakasih bapak-bapak polisi atas “pertolongannya”, semoga saya tidak berurusan lagi dengan orang-orang seperti bapak.

Cek Fisik Motor (part 1)

Selama melalang buana di Jakarta selama kurang lebih satu tahunan ini saya setia menggunakan motor berplat AE, ya… motor ini memang saya bawa dari madiun soalnya di rumah nganggur tidak terpakai, daripada jamuran dan mubadzir ya mending saya pakai saja disini 😀

Sejak berbulan-bulan lalu bapak saya sudah mewanti-wanti agar memperhatikan tanggal kadaluarsa di STNK motor itu, memang tahun ini tahun terakhir dari masa 5 tahunan berlakunya STNK. Tiap tahun kan motor kita harus di-pajakkan, ganti STNK dan bayar pajak, nah kalau udah 5 tahun harus ganti plat juga disamping ganti STNK. Masalahnya untuk pajak 5 tahunan ini harus dilakukan di daerah asal, kalau di kasus saya harus di Madiun, karena harus ada pengecekan fisik kendaraannya juga. Pajak bisa dilakukan di daerah asal tanpa ada kendaraannya dengan syarat membawa hasil cek fisik kendaraan, cek fisik ini bisa dilakukan di daerah lain. *Ini setahu saya ya, jadi kalo prakteknya meleset ya mohon maaf :p*. Gawatnya april itu udah kadaluarsa, jadi idealnya maret udah harus pajak, jadi saya harus melakukan cek fisik motor dalam waktu dekat ini! *kebiasaan mepet-mepet emang, parah euy*

Tanya kesana-kemari tentang tata-cara cek fisik ini akhirnya dapat pencerahan, ada teman yang sudah pernah melakukannya, sebut saja Arif Budi *sebenarnya nama asli sih, haha*. Katanya untuk cek fisik dilakukan di PMJ, what?! Polda Metro Jaya, owh… Tapi berdasar pengalamannya harus ada surat pengantar dulu dari Polsek, kalau dia dulu minta surat pengantarnya ke Polsek Pasar Minggu. Oke yaudah, saya memutuskan mau napak tilas jejaknya dia saja, biar kalau ada masalah minimal dia sudah pengalaman 😀

Baca lebih lanjut